PISA dan Pendidikan di Indonesia
Hasil PISA (Programme for International Student Assessment) yang dikeluarkan oleh OECD (Organisation for Economic Co‑operation and Development) di Tahun 2025 sudah di rilis dan patut kita syukuri ada perubahan di nilai Literasi dan Sains naik meskipun mengalami penurunan di Matematika tetapi setidaknya hasil PISA ini menunjukkan ada perubahan dalam dunia pendidikan meskipun belum terlalu significant tetapi harapannya akan semakin mendorong stakeholder dunia pendidikan Indonesia dapat mengambil langkah-langkah lebih baik kedepannya.
Dari Sesi peringkat meskipun jika dilihat dari hasil penilaian PISA Indonesia berada di peringkat 71 dari 93 Negara dan kalau di ASEAN, Indonesia berada di peringkat ke 6 dari 8 negara. Sangat jauh dari Singapura dan beda tipis dengan Kamboja dan yang lebih mengagumkan lagi adalah keberadaan Vietnam sebagai peringkat ke 2 setelah Singapura. Artinya di antara negara-negara ASEAN saja kita masih perlu belajar dan bekerja keras untuk memperbaiki dunia pendidikan kita apalagi harus bersiang dengan negara China yang berada di peringkat 1 dari 90 negara yang dinilai oleh OECD.
Ada 4 bagian yang dinilai dalam penilaian PISA yaitu Sains (Science), Membaca (Reading), Matematika (Mathematics) dan Pemecahan masalah Komputasional dan hasil penilaian dari PISA 2025 sudah seharusnya segera ditindak lanjuti dengan melakukan berbagai program yang terkait peningkatan kualitas dari Pendidikan kita. Kita mengapresiasi empat pilar strategi utama yang dikeluarkan oleh Kemendikdasmen yaitu :
- Penguatan kompetensi guru,
- Peningkatan kualitas pembelajaran (penerapan pembelajaran mendalam, digitalisasi pembelajaran, dan penguatan literasi-numerasi serta karakter murid), harmonisasi kerangka Asesmen Nasional (AN)
- Tes Kemampuan Akademik (TKA) dengan kompetensi bernalar pada kerangka PISA
- Penguatan peran keluarga melalui Gerakan 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat (7KAIH) dan penguatan kemitraan orang tua dalam pembelajaran mendalam.
Lalu bagaimana implementasinya di lapangan, apakah semua guru sudah memahami apa yang harus mereka lakukan dalam membantu memperbaiki wajah pendidikan kita. Salah satu langkah yang perlu dilakukan adalah menyatukan persepsi dari semua guru untuk mendukung perbaikan ini. Salah satu contohnya adalah dalam bidang membaca, dimana salah satu kelemahan anak kita adalah mampu memnbaca tetapi tidak mampu memahami apa yang di baca. Tentunya hal ini bukan hanya tugas dari guru Bahasa tetapi bagaimana semua guru mata Pelajaran dapat mendukung hal ini serta bagaimana mengintegrasikan kecakapan membaca ini dalam semua mata Pelajaran karena jika hanya satu mata Pelajaran tentunya tidak akan membuahkan hasil dan pendidikan kita tidak akan berubah.
Begitu pula dengan Science, Mathematic dan pemecahan masalah komputasional seharusnya dapat saling terintegrasi satu dengan lainnya dan hal ini tentunya juga akan berdampak pada hasil TKA yang beberapa waktu lalu juga mendapatkan kritikan dari Masyarakat sehubungan dengan rendahnya hasil TKA anak-anak Indonesia. Hasil PISA ini seharusnya bisa jadi momentum perbaikan pendidikan kita supaya tidak terus menerus tertinggal dari negara-negara lain di Tingkat ASEAN. Jika Vietnam saja bisa, seharusnya Indonesia juga bisa. Salam Merdeka Belajar.
Add Comment