#sokrates

Belajar Online Bukan Mengajar Online

Baru-baru ini penulis mendapatkan cerita dari seorang rekan yang anaknya mengikuti proses pembelajaran jarak jauh, berhubung kondisi sekolah yang belum memungkinkan untuk dilakukan proses pembelajaran secara normal. Beliau mengatakan jika Guru anaknya mengajar menggunakan Zoom dan sang anak mengikutinya sambil tiduran dan ternyata anak tersebut tertidur dan tidak mengikuti proses pembelajaran, alhasil gurunya yang berceramah di Zoom tidak didengarkan dan sang anakpun tidak mendapatkan apa-apa dari proses pembelajaran yang dilakukan oleh Guru. Mungkin hal yang sama juga banyak dialami oleh Guru dan peserta didik sehingga hal tersebut dianggap sebagai kendala dan menyampaikan bahwa pembelajaran online tidak tepat digunakan padahal pemahaman yang sering kurang tepat sehingga implementasinya pun seringkali kurang tepat. Sebenarnya Gurunya tidak sepenuhnya dapat disalahkan karena mungkin ini baru pertama kali beliau melakukan pembelajaran secara online sehingga ada kekurangpahaman dalam mengintegrasikan teknologi dalam proses pembelajaran. Masih banyak guru yang menggangap pembelajaran secara online yaitu menggunakan teknologi untuk mengajar sepenuhnya seperti di dalam kelas. Hal itu rasanya kurang tepat karena kondisi anak-anak berada di kelas dengan dirumah tentunya berbeda. Di kelas mereka bertatap muka langsung dengan Gurunya, peserta didik duduk teratur dikursinya dengan posisi siap melakukan proses pembelajaran yang telah didesain oleh Gurunya sedangkan di rumah anak-anak tidak bertatap muka secara langsung. Mereka bisa mengambil posisi sesuai dengan keinginan mereka, ada yang tiduran, duduk di teras rumah, di ruang tamu dan posisi-posisi lain yang sekiranya nyaman buat mereka untuk melaksanakan proses pembelajaran melalui aplikasi yang mereka gunakan karena tidak ada aturan baku untuk mereka dalam melaksanakan proses pembelajaran secara online. Kita bisa bayangkan, orang dewasa saja jika menonton TV yang didalamnya hanya ada orang bicara saja, kita bisa mengantuk apalagi anak-anak? Bisa dibayangkan apa yang terjadi dengan mereka jika selama 2 jam pelajaran mereka hanya mendengarkan ceramah dari Gurunya melalui aplikasi video conference. Tentunya anak-anak juga akan mengalami hal yang sama, mengantuk, bosan, mematikan video mereka, dan mencari-cari kegiatan-kegiatan lain untuk menghilangkan rasa bosan mereka. Lalu apa yang harus kita lakukan? Tentunya Guru harus memahami jika belajar online bukan mengajar online (Online Learning not Online Teaching) sesuai dengan judul tulisan ini. Jika Guru mengajar online bukan berarti mereka melakukan proses belajar yang sama seperti di kelas tetapi mereka harus menggunakan metode yang baru sehingga proses pembelajaran dapat berjalan dengan lebih maksimal. Salah satu metode yang dapat dilakukan adalah dengan metode Flip Classroom yaitu sebuah metode pembelajaran dengan memberikan materi kepada peserta didik sebelum mereka masuk ke dalam kelas dan ketika mereka masuk ke kelas para peserta didik lebih banyak melakukan praktek, diskusi dan atau membuat proyek. Hal ini bisa dilakukan oleh Guru khususnya jika mereka melakukan proses pembelajaran secara online. Guru terlebih dahulu memberikan materinya kepada peserta didiknya baik melalui E-mail, LMS (Learning Management System), media sosial dan lain sebagainya dan ketika waktunya tiba untuk melakukan video conference dengan peserta didik, Guru tinggal berdiskusi dengan peserta didiknya jika ada hal yang masih mereka belum paham, peserta didik mempresentasikan apa yang telah mereka pelajari atau jika memungkinkan mempraktekkan isi dari materi yang telah disampaikan sebelumnya. Dengan langkah ini ada keutuntungan yang akan didapatkan oleh Guru dan Peserta didik, yaitu: Guru dapat memastikan peserta didiknya sudah benar-benar memahami mengenai materi yang telah disampaikan oleh Guru sebelumnya. Pertemuan dapat berjalan dengan lebih interaktif dan peserta didik tidak cepat merasa bosan karena mereka merupakan bagian penting dalam proses pembelajaran secara online. Peserta didik dapat belajar secara lebih mandiri dan lebih bertanggung jawab akan tanggung jawab yang diberikan oleh Gurunya yaitu mempelajari materi. Guru dapat memberikan penilaian kepada peserta didik yang aktif dan mana yang memerlukan penanganan khusus. Lebih menghemat waktu online dan tentunya akan lebih menghemat kuota karena tidak semua Guru maupun peserta didik yang memiliki kemampuan yang baik dalam membeli kuota internet karena kita sama-sama mengetahui jika biaya Internet di negeri kita ini masih mahal. Berbagai macam strategi dan metode dapat kita lakukan dalam melaksanakan proses pembelajaran supaya dapat berjalan dengan lebih efektif, tinggal kita sebagai pendidik menggali berbagai informasi dan langkah untuk dapat melaksanakan proses pembelajaran secara lebih efektif dan efisien. Selamat Mendidik dan Salam Merdeka Belajar.

Pedagogy, Andragogy, dan Heutagogy

Konten Digital Dalam Pembelajaran

Guru Harus Bersahabat Dengan Teknologi

Selamat Datang Perubahan Pendidikan

Menerapkan Metode Gamification Melalui LMS

Memunculkan Tanya Menggunakan Empati

Perlukah Kurikulum Darurat?

Aplikasi Video Conference “Zoom” Dalam Dunia Pendidikan

1 5 6 7 8 9 12